This is the same way we ever pathed together.. Just try not remember, but can't.. My eyes serve that depictured flashback of that day.. I never think on that day that it'll never come again for me.. Truely my flesh want to tease you but lately can't.. Just want another story with holyness but actually i guess it little bit flat, even still feeling can't lie.. If use "at least" formula.. At least God give me chance to know the feel i have never feel before.. May be I am fall in love?
Sabtu, 25 Februari 2017
Kamis, 16 Februari 2017
My unsharp vision
"Namaku mimpi.. Aku sering dibicarakan mereka yang memiliki darah api.. Mereka merasa membara membicarakan aku.. Tetapi aku bisa menjadikan mereka abu jika tidak diangin angini.. "
Dicekokin banyak univ yang lagi pameran di sebuah hotel ternama di medan ini menggoncangkan hal yang ku percaya..
Inilah hidup, tempat orang bersaing.. Mimpi pun dibikin bersaing.. Padahal tidak selamanya hidup tentang persaingan.. Aku Kiara, mendeklarasikan bahwa aku terlebih rindu akan hidup yang penuh perdamaian.. Aku ingin kerinduanku sekolah adalah jalan hidupku, takdir yang dari Allah.. Bagaimana aku tahu aku itu takdirku..
Setelah aku menyelesaikan pendidikan kedokteran dan program pendidikan profesi dokterku yang atas ridhoNya juga kulalui lewat bidik misi.. Aku akan segera ukdi bulan depan.. Insya Allah aku lulus one shoot dan kemudian internship.. Tapi kabur bagiku kemana aku setelah itu.. Whether I am work for country or private place of work.. Hari ini pulang urus surat2 ke kampus aku kesini nih.. Berharap ada jalan takdir yang dibukakan Allah bagiku..
Alih alih dibukakan, aku makin bingung.. Terlebih memang untuk univ luar negeri mereka tidak menyediakan pendidikan lanjutan kedokteran untuk spesialis.. Hanga pendidikan lanjutan kedokteran untuk riset.. Hmm.. Dimana takdir itu...
At least aku masih punya sense untuk hari esok, aku berharap segera menemukan jalan-Nya, Amin.
Kamis, 09 Februari 2017
Kamu belum jadi dokter Kiara..
*dering handphone* (Coldplay - Can't stop the feeling)
Kiara membuka matanya dan lihat profil peneleponnya pagi itu
"halo.. Iya maa?? "
"eh belum bangun lagi jam segini, anak gadis atau gak"
"ma, aku belum lagi mulai koas. Lama kali ma nunggunya ini"
"trus jadi ngapain sekarang kesibukanmu? "
"aku mau ikut kegiatan si tante lah ma ke pengungsian, tapi mau di seminar dulu. Mnurut mama gimana? "
"yaudah, pergi aja"
Memang begitulah selalunya pembicaraan Kiara dengan mamanya, hampir gak pernah resmi. Every relationship have their languages, anonymous said.. Kiara slalu berharap bisa sperti temannya yg lain ke mamanya yg slalu santun. But at least masih bisa komunikasi disyukurinya aja.
Kiara sbnrnya masih bingung sebenarnya apa jadi dokter adalah garis hidupnya, beberapa org menggunakan terminologi takdir.. Tapi ga bs dipungkirinya dia benar2 senang ketemu orang baru.. Kiara memang punya darah sosialistis, liat aja follower instagramnya, ya ga patokan sih..
Kiara juga sadar it's not a strong reason to stand still in this line. Mananya gelombang koasnya lama turunnya.. Dia juga ada rencana perbaikan mata kuliah..
Akhirnya tibalah hari Kiara akan pergi ke Brastagi bareng tim tantenya untuk seminar bantuan bencana alam. Kiara sebenarnya gak terlalu peduli hal begituan. Walaupun dia punya darah sosialistik, tapi cuma orang di sekitarnya. Dia tipe yang susah hubungan yanng jauh. Walau debu sinabung beberapa kali nyasar ke medan, dia ga begitu yakin gunung vulkanik itu nyata bahayanya.
"hai kak sara"
"kiaraaa.. "
Seperti biasa kiara cuma tau bakal histeris kalau jumpa sara, salah seorang tim tantenya.. Lainnya ada Pak Mino, cathreen dan suaminya Herold, dan pasangan baru fira dan Noel..
medan-brastagi adalah perjalanan yang asyik buat yang terlalu penat di medan..
Finally they arrived.. Sementara smua sibuk siapin meja dan kartu nama peserta peserta seminar sebagaimana tim tantenya Kiara adalah panitia penyelenggara. Kiara yang ga tau mau ngapain sibuk baca buku motivator yang belum lama dibelinya.
Sore itu seminar itu dimulai. Tante Kiara memanggil Kiara, memang mungkin Kiara ini memang harus diajar behave kalau lagi ngumpul. Butuh orang sabar untuk hadapi Kiara, keponakan tante Sien yang manis..
Duduk manis seperti kuliah, itulah yang perlu dilakukannya. Di pikiran Kiara hanyalah bagaimana agar tantenya tidak menyesal membawanya.. Lebih dari itu Kiara sebenarnya ga berharap lebih karena materinya gak lebih advanvce dari yang didapatnya di kuliah kedokteran. But try to setia dalam perkara kecil..
Kiara memandang sesekali ke arah audience kalau bosan.. Matanya mendapati sosok bermata tajam.. Siapa dia ya.. Tapi Kiara mengerti bahwa ada rasa penasaran yang tidak perlu kita layani.. Inilah mungkin salah satunya..
Istirahat adalah sesi yang ditunggunya.. Akan sangat menyenangkan dalam pikirannya bermalam bersama kak sara dan tante Sien..
"raa.. Katanya ada orang lokal yg dokter ikut seminar ya? "
"kiara gatau tuh kak"
"iya loh yang brewokan"
"yang matanya tajam ya, oh aku lihat.. "
Tante Sien menyahuti mereka dengan logat uniknya "memang ada.. "
"ga cocok gitu ga sih kak kaya gitu jadi dokter kak, tajem"
Kiara terlalu terpaku pada first impression dokter seperti yang di sinetron memang..
(bersambung....)
